KUMPULAN KHUTBAH JUMAT : MUHASABAH AKHIR TAHUN


 


 

KHUTBAH PERTAMA 


 




Alhamdulillah, bersyukur kepada Allah atas segala nikmat dan karunia-Nya. Dia-lah yang Mahaperkasa, yang menguasai alam semesta. Yang Maha Pengatur dan menggerakkan apa saja di  dunia, baik yang terlihat sebagai makhluk hidup maupun benda mati.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan alam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Bertakwalah kepada Allah. Taati aturan-Nya. Jauhi dan tinggalkan larangan-Nya. Tundukkan hawa nafsu kita. Buang jauh-jauh kesombongan yang sering muncul dari dalam diri kita. Berpeganglah kepada Al-Qur’an dan Sunnah.

 



Hadirin jamaah jumah rahimakumullah,
Tak terasa, kita sudah ada di penghujung tahun 2022. Tak lama lagi kita akan memasuki Tahun Baru 2023. Sudah selayaknya secara pribadi maupun secara kolektif kita semua melakukan muhâsabah (perhitungan) atas apa yang telah kita lakukan, khususnya dalam setahun terakhir ini.

Secara pribadi, muhâsabah memang diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kepada setiap manusia. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: 


 



Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengingatkan dalam sabdanya: 


 



Tentang pentingnya muhâsabah pula, Imam Hasan al-Bashri pernah menyatakan, “Sungguh seorang Mukmin yang menjaga dirinya sendiri akan selalu melakukan muhasabah karena Allah subhanahu wa ta’ala. Sungguh akan terasa ringan penghisaban Allah subhanahu wa ta’ala atas suatu kaum yang biasa menghisab diri mereka saat di dunia.” (Ibn al-Jauzi, Shifat ash-Shafwah I/356).

Hadirin jamaah jumah rahimakumullah,
Selain muhâsabah atas diri, harus ada muhâsabah kolektif, atas seluruh komponen bangsa ini atas kondisi negeri mereka saat ini. Sudah benarkah arah perjalanan negeri ini?

Sungguh kita miris jika kita buka kembali lembar-lembar kejadian di tahun ini. Kemiskinan tak teratasi. Apalagi ditambah pandemi.
Kriminalitas terus meningkat, bahkan ada yang dilakukan oleh aparat. Judi online, narkoba, miras, hingga seks bebas serta LGBT, kian meluas. Korupsi tak henti-henti. Kerusakan moral makin brutal. Para mafia di mana-mana: ada mafia impor, mafia peradilan, hingga mafia politik. Agama terus dinista.

Muncul pertanyaan: mengapa semua itu terjadi dan terus-menerus melanda bangsa dan negeri ini? Apa akar persoalannya? Apa pula solusinya yang mendasar dan total?

Hadirin jamaah jumah rahimakumullah,
Ketahuilah, pangkal dari segala bencana, keterpurukan dan  kerusakan yang melanda bangsa dan negeri ini adalah akibat dosa, kemaksiatan dan pembangkangan kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman:  


 

 


Imam Ali ash-Shabuni dalam kitab tafsirnya, Shafwah at-Tafâsîr, menjelaskan maksud ayat tersebut, yakni telah tampak musibah dan bencana di permukaan bumi dan di laut disebabkan oleh kemaksiatan dan dosa-dosa manusia kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Apa itu? Pembangkangan terhadap hukum-hukum Allah subhanahu wa ta’ala. Bahkan syariah-Nya kerap distigmatisasi negatif. Semangat dakwah untuk menegakkan agama-Nya justru  dilabeli radikal dan dipandang sebagai ancaman. Islam, agama kebanggaan kita, terus dimoderasi, agar tercabut dari akarnya yang hakiki. Kita ditakut-takuti, jangan menjadi Muslim taat, tapi diarahkan menjadi Muslim moderat.

Hadirin jamaah jumah rahimakumullah,
Pertanyaannya: Apa solusinya? Satu-satunya solusi yang benar, mendasar dan total adalah dengan menerapkan syariah Islam secara kâffah. Itulah bukti keimanan kita secara total pada syariahNya.


Janganlah kita mengulangi kesalahan yang sama dengan tetap mempercayai sistem kehidupan selain Islam. Tetap berkubang dalam sistem kehidupan selain Islam. Saatnya kita bangkit kembali dengan Islam.

Ingatlah, kebangkitan dari segala keterpurukan yang menimpa negeri ini hanyalah dengan kembali pada Islam secara kaffah. Menjadikan Al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai rujukan hidup kita dalam semua aspek kehidupan.

Semua itu sebagai perwujudan takwa kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Takwa inilah yang akan menjadikan kita mendapatkan  ragam keberkahan dari Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: 


 

Bukankah ayat tersebut janji Allah yang nyata?


 




KHUTBAH II